Wisata Petik Apel dan Taman Bunga Terbaik di Batu Mulai Selecta hingga San Terra
Pernah nggak sih kamu merasa penat banget sama rutinitas kota yang isinya cuma macet, polusi, dan gedung bertingkat? Kalau iya, berarti tubuh dan pikiran kamu lagi butuh asupan udara dingin serta pemandangan hijau yang menyegarkan mata.
Dan kalau kita bicara soal
"kabur" sebentar dari realita untuk mencari ketenangan, Kota Batu di
Jawa Timur adalah jawaban yang paling logis.
Kota ini punya magis tersendiri.
Berada di ketinggian 800 hingga 2.000 meter di atas permukaan laut, Batu
menyapa siapa saja dengan kabut tipis dan hawa sejuk yang bikin betah
berlama-lama.
Tapi, Batu bukan cuma soal
dingin-dinginan pakai jaket tebal. Kota ini adalah kanvas raksasa yang dilukis
dengan warna-warni bunga dan rimbunnya kebun apel yang melegenda.
Belakangan ini, banyak banget
destinasi baru bermunculan, mulai dari yang viral di TikTok karena spot fotonya
yang estetik sampai yang sudah melegenda sejak zaman Belanda.
Saking banyaknya pilihan, seringkali
bikin bingung wisatawan: Mana sih yang sebenarnya worth
it buat dikunjungi? Apakah kebun apel rakyat lebih asik dan autentik
dibanding agrowisata besar? Apakah San Terra cuma menang di foto doang atau
beneran nyaman?
Tenang, panduan ini bakal mengupas
tuntas secara jujur. Kita akan bedah satu per satu, lengkap dengan tips
"orang dalam" biar liburan kamu nggak zonk dan tetap seru.
Sebelum berangkat, ada baiknya kamu
juga mengintip panduan lengkap Itinerary Batu Malang agar
waktumu di sini bisa dimanfaatkan seefisien mungkin.
Dilema
Wisata Petik Apel Antara Agrowisata Komersial dan Kebun Rakyat
Ke Batu tanpa petik apel itu ibarat
makan sayur tanpa garam, rasanya ada yang kurang. Kurang sedap! Tapi, jangan
asal masuk kebun.
Secara garis besar, ada dua tipe
wisata petik apel di sini: yang dikelola perusahaan besar (Agrowisata) dan yang
dikelola petani lokal (Kebun Rakyat). Keduanya punya plus minus yang wajib kamu
tahu sebelum tancap gas.
Agrowisata
Komersial Tipe Turis Nyaman
Kalau kamu tipe traveler yang "anti ribet", suka fasilitas bersih, dan bawa rombongan keluarga besar termasuk lansia atau balita, tempat seperti Kusuma Agrowisata adalah pilihan paling aman. Di sini, semuanya sudah tertata sangat sistematis.
Kelebihan utamanya adalah aksesibilitas.
Bus besar pun bisa masuk sampai parkiran utama dengan
nyaman tanpa harus takut berpapasan di jalan sempit.
Fasilitasnya pun terintegrasi dengan
sangat baik. Habis lelah memetik apel, kamu bisa langsung makan enak di
restoran, main air di waterpark, atau belanja oleh-oleh di satu lokasi yang
sama.
Poin krusial lainnya adalah
kebersihan. Toilet di sini standarnya setara hotel atau mall, jadi kamu nggak
perlu khawatir soal sanitasi. Selain itu, ada pemandu profesional yang siap
menjelaskan dan mengantar kamu keliling pakai mobil wisata.
Tapi, tentu ada harga yang harus
dibayar. Tiket masuknya tergolong premium, dan vibes-nya terasa
sangat "turistik", kurang ada sensasi petualangan masuk kebun yang
liar dan alami. Biasanya juga ada aturan ketat soal jumlah buah yang boleh
dimakan di tempat.
![]() |
| Kebun Petik Apel |
Kebun
Apel Rakyat Tipe Petualang Autentik
Nah, kalau kamu ingin merasakan the real experience jadi petani apel sehari, cobalah
melipir ke daerah Bumiaji, Junggo, atau Tulungrejo. Di sini, petani lokal
membuka pagar kebun mereka untuk wisatawan umum.
Kenapa harus coba Kebun Rakyat?
Alasan utamanya adalah kebebasan. Hampir semua kebun rakyat punya aturan emas: Makan di tempat GRATIS sepuasnya!
Kamu cuma perlu bayar tiket masuk
yang harganya sangat miring (biasanya 20-30 ribu rupiah) dan membayar apel yang
ingin dibawa pulang saja.
Interaksinya pun jauh lebih hangat.
Kamu bisa ngobrol langsung sama Pak Tani, tanya soal suka duka panen, bahkan
diajarin cara memilih apel yang benar.
Pemandangannya? Jangan ditanya.
Kebunnya benar-benar berada di lereng bukit, dikelilingi pemandangan Gunung
Arjuno yang gagah perkasa.
Namun, kamu harus siap dengan
tantangannya. Lokasi kebun apel rakyat biasanya agak masuk ke gang-gang desa
dengan kontur jalan yang menantang.
Terkadang jalannya menanjak curam
atau masih berupa jalan makadam (batu). Oleh karena itu, pastikan kendaraanmu
prima, terutama bagian rem dan kopling.
Biar nggak mogok di tengah tanjakan, sebaiknya kamu baca dulu tips teknis di cara ke Batu Malang serta tips transportasi liburan yang sudah kami rangkum.
Kenali
Jenis Apel Batu Biar Nggak Salah Petik
Banyak yang belum tahu kalau apel di
Batu itu beda-beda jenisnya. Jangan sampai kamu niatnya cari yang manis, eh
malah dapat yang asem buat rujak. Biar terlihat pro saat di kebun, hafalkan
ciri-cirinya berikut ini:
- Apel Manalagi: Ini adalah favorit sejuta
umat. Warnanya kulit hijau kekuningan (kuning kehijauan). Rasanya dominan
manis, daging buahnya renyah tapi agak keras, dan kadar airnya sedang.
Aromanya wangi khas yang harum banget. Jenis ini paling cocok dimakan
langsung atau dijadikan oleh-oleh karena tahan lama.
- Apel Rome Beauty: Si merah yang menggoda.
Kulitnya hijau dengan semburat merah merona, makin merah tandanya makin
matang. Rasanya sedikit masam segar, teksturnya agak powdery (masir) dan lembut. Apel jenis ini paling
enak kalau dibuat jus, sari buah, atau pai apel.
- Apel Anna: Sang primadona baru.
Warnanya merah menyala mirip apel impor Washington dengan bentuk agak
lonjong. Rasanya adalah kombinasi sempurna antara asam dan manis yang
segar banget. Dagingnya renyah saat baru petik, tapi cepat lunak. Jadi,
apel Anna ini harus segera dimakan alias tidak seawet Manalagi.
Setelah perut kenyang makan apel
langsung dari pohonnya, sekarang saatnya memanjakan mata (dan memori kamera).
Batu punya "The Big Three"
taman bunga yang masing-masing punya karakter unik dan segmen pasarnya sendiri.
Bingung pilih yang mana? Yuk kita
bedah detailnya biar kamu bisa tentukan prioritas sesuai selera.
Flora
Wisata San Terra Vibes Luar Negeri Tanpa Paspor
Kalau kamu aktif di Instagram atau
TikTok, pasti nggak asing sama tempat ini. Berlokasi di Pujon, San Terra de Laponte memang didesain khusus buat kamu
yang hobi foto-foto narsis dan ingin stok konten melimpah. Konsepnya sangat
jelas yaitu membawa suasana Eropa dan Korea ke tanah Jawa.
Begitu masuk, kamu akan disambut oleh
zona Little Korea. Replika pertokoan Dongdaemun dengan warna-warni pastel yang kyeopta (lucu) banget berjajar rapi.
Di sini kamu bisa menyewa Hanbok (baju tradisional Korea) biar fotonya makin
totalitas layaknya sedang syuting drama Korea. Bergeser sedikit, suasana
berubah menjadi Little Amsterdam.
Sebuah kincir angin raksasa berdiri
gagah di tengah taman, dikelilingi bangunan bergaya Belanda klasik dengan
jendela-jendela besar berwarna cerah.
Salah satu signature
dari San Terra yang membedakannya dengan tempat lain adalah Lorong Bunga Gantung. Ratusan pot bunga digantung rapi
di sepanjang jalur pejalan kaki yang beratap, menciptakan suasana teduh dan dreamy banget. Selain itu, koleksi bunganya juga tidak
main-main. Mereka punya ratusan jenis bunga, beberapa di antaranya adalah bibit
impor yang warnanya jarang kita lihat di taman biasa.
Tempat ini sangat Instagramable, tiap sudut didesain estetik sehingga
kamu nggak bakal kehabisan stok foto. Jalurnya pun sudah dipaving rata, jadi
kalau kamu membawa stroller bayi atau kursi roda,
aksesnya sangat aman dan nyaman.
Namun, kekurangannya adalah tempat
ini bisa menjadi sangat ramai saat akhir pekan. Di
area tengah yang merupakan lapangan terbuka, matahari bisa terasa sangat
menyengat kalau kamu datang pas siang bolong.
Tips Pro: Datanglah jam 08.00 pagi tepat saat gerbang dibuka. Cahayanya masih lembut, udaranya segar, dan pengunjung belum terlalu ramai. Kamu bisa puas foto di Little Korea tanpa harus antre atau "bocor" kena punggung orang lain.
![]() |
| Walang Green House BALOGA |
Batu
Love Garden atau BALOGA Edukasi dalam Balutan Estetika
Ini adalah "adik" dari
Jatim Park Group. Beda sama kakaknya yang fokus ke wahana ekstrem atau satwa
buas seperti di Batu Secret Zoo dan Predator Fun Park di Batu,
BALOGA (Batu Love Garden) fokus spesifik ke botani, bunga, dan edukasi alam.
Tempat ini paket komplit: mata dimanja, otak diisi.
Salah satu zona yang wajib kamu cek
adalah Walang Green House. Ini adalah bangunan rumah kaca
raksasa berbentuk belalang yang sangat ikonik.
Di dalamnya tersimpan koleksi tanaman
eksotis, mulai dari kaktus raksasa, tanaman karnivora, sampai anggrek hutan
langka yang harganya fantastis.
Selain itu, ada Zona Dried Flower yang unik banget! Bunga-bunga
dikeringkan dengan teknik khusus dan disusun menjadi karya seni vintage.
Nuansanya rustic,
dengan dominasi warna cokelat hangat, estetik parah buat feeds Instagram kamu yang bertema earth tone.
Jangan lupa juga mampir ke Tropical Fruit Garden, kebun buah tropis di mana kamu
bisa lihat pohon jeruk, jambu, dan buah naga. Kalau pas musim panen, kamu
bahkan bisa membeli buah segarnya langsung.
Kenapa harus ke BALOGA? Tempat ini
punya nilai edukasi tinggi, sangat cocok buat keluarga muda yang
mau mengenalkan jenis-jenis tanaman ke anak-anak.
Fasilitasnya pun sangat lengkap, ada food court luas, mushola nyaman, dan toilet bersih
standar Jatim Park. Area ini sangat luas (sekitar 7 hektare!), tapi tenang, ada
penyewaan skuter listrik dan sepeda biar kaki nggak gempor.
Suka wisata alam dan tumbuhan? Setelah puas berkeliling di kebun
bunga BALOGA, kamu bisa melanjutkan petualangan wisata edukasi satwa dan
lingkungan di Eco Green Park Batu dan Wisata Edukasi Lingkungan yang
lokasinya masih satu jalur.
Taman
Rekreasi Selecta Sang Legenda yang Tak Lekang Waktu
Jangan remehkan tempat ini
mentang-mentang usianya sudah tua. Selecta dibangun sejak zaman kolonial
Belanda dan sampai sekarang masih jadi primadona.
Bedanya apa sama yang baru-baru?
Selecta itu timeless dan benar-benar fokus pada keaslian alam (nature-focused).
Daya tarik utamanya adalah Taman Bunga Berundak. Hamparan bunga Kana, Krisan, dan
Hortensia (Panca Warna) ditanam di lahan berbukit yang sangat luas dan tertata
rapi.
Karena posisinya dikelilingi hutan
dan gunung, udara di Selecta terasa lebih dingin dan segar
dibanding taman bunga lain yang areanya lebih terbuka.
Selain bunga, Selecta terkenal dengan
Kolam Renang Mata Air. Air kolamnya berasal langsung
dari sumber pegunungan, tanpa kaporit berlebih.
Dinginnya nampol, segar banget, dan
bikin badan fresh seketika. Ada juga papan luncur jadul yang
legendaris yang masih kokoh sampai sekarang.
Fasilitas di sini sangat ramah
keluarga. Kamu boleh menggelar tikar di area rumput tertentu untuk piknik makan
bekal bareng keluarga besar adalah hal yang jarang diperbolehkan di tempat
wisata modern. Ada juga wahana Sky Bike, sepeda
udara buat keliling melihat keindahan taman bunga dari atas.
Sudah tahu yang mainstream, sekarang saatnya kita bahas yang hidden gems alias permata tersembunyi.
Batu masih punya banyak spot rahasia yang murah meriah tapi pemandangannya mahal. Plus, kita akan bahas juga soal kuliner legendaris dan tips teknis biar liburanmu makin sempurna.
![]() |
| Taman Bunga Selecta |
Hidden
Gems Menikmati Bunga dengan Cara Berbeda
Bosan sama tempat wisata yang harus
bayar tiket mahal? Cobain spot-spot ini buat pengalaman yang lebih autentik dan
menyatu dengan warga lokal.
Desa Sidomulyo Kampungnya Para Petani Bunga
Ini bukan tempat wisata buatan, ini
desa beneran! Mayoritas warga di sini berprofesi sebagai petani bunga.
Sepanjang jalan desa, halaman rumah warga penuh sesak dengan polybag tanaman hias siap jual.
Tips belanja di sini: Kamu bisa dapat
harga grosir. Bayangkan, bibit mawar atau krisan bisa
kamu bawa pulang mulai harga Rp 3.000 sampai Rp 5.000 saja.
Jauh lebih murah dari toko bunga di
kota besar! Jangan ragu buat menawar, apalagi kalau beli banyak (borongan). Dan
asiknya lagi, gratis masuk karena ini jalan umum desa, kamu cuma
bayar apa yang kamu beli.
Pesona
Liar Bunga Hortensia di Coban Talun dan Cangar
Pernah lihat foto orang di tengah
semak bunga bulat-bulat besar warna biru atau ungu? Itu bunga Hortensia (Bunga
Bokor). Di Batu, bunga ini tumbuh subur.
Di Coban Talun, ada
taman bunga Hortensia yang tumbuh di bawah naungan hutan pinus. Suasananya moody, seringkali berkabut, dan dingin.
Sangat cocok untuk foto bertema folklore. Sementara itu, kalau kamu sedang road trip ke arah pemandian air panas Cangar,
perhatikan sisi jalan. Banyak bunga Hortensia tumbuh liar di tebing-tebing
jalan. Pemandangannya sekilas mirip jalanan pegunungan di Swiss!
Wisata Malam dan Kuliner Legendaris
Malam di Batu itu sayang banget kalau
cuma dihabiskan buat tidur di hotel. Keluar deh, cari spot tinggi atau cari
makan enak.
Untuk pemandangan lampu kota (city lights) terbaik, Taman Langit Gunung Banyak
adalah juaranya. Lokasinya satu area sama landasan Paralayang.
Kamu bisa melihat gemerlap lampu kota
Batu dari atas sembari berfoto di spot unik seperti Angsa Raksasa atau Ranjang
Rumput.
Kalau kamu lebih suka keramaian pasar
malam modern dengan lampion warna-warni, tentu saja pilihannya adalah Batu Night Spectacular Wisata Malam Batu Seru.
Urusan perut, jangan sampai lewatkan
kuliner legendaris di sekitar sini.
- Sate Kelinci: Banyak ditemukan di jalur
menuju Selecta. Dagingnya halus, rendah kolesterol, dan disajikan
panas-panas dengan bumbu kacang. Cobain Sate Hotplet yang penyajiannya
unik.
- Pos Ketan Legenda 1967: Ikon kuliner di Alun-Alun
Batu. Ketan durian susunya juara. Antreannya memang panjang, tapi rasanya
sepadan. Lokasinya juga dekat dengan Museum Angkut Batu kalau kamu mau sekalian mampir.
- Bakso Malang: Wajib hukumnya. Cari Bakso
De Stadion atau Bakso Arief buat rasa yang otentik.
Trivia Sejarah Kenapa Batu Identik dengan Apel?
Pernah penasaran nggak, kenapa Batu
disebut Kota Apel? Padahal ini daerah tropis. Sejarahnya dimulai sejak zaman
kolonial Belanda sekitar tahun 1930-an.
Orang Belanda rindu buah Eropa, lalu
mencoba menanam bibit apel di sini. Ternyata, tanah vulkanis Batu sangat cocok!
Uniknya, petani Batu menemukan teknik
perempelan daun (membuang daun setelah panen) yang
"memaksa" pohon apel berbunga lagi tanpa menunggu musim semi. Inilah
sebabnya di Batu, apel bisa panen sepanjang tahun.
Panduan
Praktis Biar Liburan Nggak Zonk
Biar rencana liburanmu mulus,
perhatikan checklist penting ini:
- Waktu Terbaik Berkunjung: Hindari puncak musim hujan
(Januari-Februari) karena kabut tebal sering menutupi pemandangan. Waktu
terbaik adalah awal kemarau (Mei-Agustus) di mana langit biru cerah dan
udara dingin maksimal.
- Outfit & Perlengkapan: Pakai baju warna kontras
(putih/krem) biar "nyala" pas foto di tengah bunga. Wajib pakai sneakers karena kontur tanah Batu naik turun.
Jangan lupa jaket tebal karena suhu malam bisa drop sampai 15 derajat.
- Akomodasi: Kalau bawa keluarga besar, sewa Villa di sekitar Museum Angkut lebih hemat. Tapi kalau mau staycation nyaman, cek rekomendasi [Hotel Dekat Tempat Wisata Batu Praktis] untuk pilihan hotel dengan view gunung terbaik.
![]() |
| Taman Bunga San Terra de Laponte Batu |
Contoh
Itinerary Singkat 24 Jam di Batu
- 07.00 - 09.00: Petik Apel di Bumiaji
(Sarapan buah segar!).
- 09.30 - 12.00: Eksplor San Terra atau
Selecta (Pilih satu biar puas foto-foto).
- 12.00 - 13.00: Makan siang Sate Kelinci.
- 13.30 - 15.00: Belanja tanaman murah di
Desa Sidomulyo.
- 16.00 - 18.00: Sunset di Taman Langit
Gunung Banyak + Ngopi senja.
- 19.00 - Selesai: Kulineran Ketan Legenda di
Alun-Alun.
Batu itu candu. Entah kamu tim yang
suka kenyamanan di San Terra atau tim petualang di kebun rakyat, kota ini
selalu punya cara bikin kangen. Jadi, kapan nih mau "nglencer" ke
Batu lagi? Siapkan kamera, kosongkan memori HP, dan nikmati sejuknya kota Apel!






