Senin, 19 Januari 2026

Wajah Baru Kuliner Pegunungan & Primadona Pasar Among Tani

Wajah Baru Kuliner Pegunungan & Primadona Pasar Among Tani

💡 Ringkasan Artikel: Tahun 2026 menempatkan Batu–Malang sebagai destinasi kuliner yang matang, di mana rasa autentik, tradisi yang dimodernisasi, dan atmosfer pegunungan berpadu dalam setiap suapan. Dari Sego Empok Pasar Among Tani, sate kelinci legendaris, hingga susu jahe hangat di Songgoriti, perjalanan ini bukan sekadar makan, tapi pengalaman rasa yang bikin kangen dan ingin kembali.

Tahun 2026 di Kota Batu dan Malang bukan sekadar pergantian angka di kalender. Bagi para penikmat perjalanan, tahun ini menandai sebuah kematangan wajah pariwisata di Jawa Timur.

Jika dulu kita mengenal Batu hanya sebagai kota apel atau kota taman bermain buatan, kini narasi itu telah bergeser.

Saat kaki kita melangkah turun dari kendaraan, hal pertama yang menyergap bukan hanya udara dingin bersuhu 16-19 derajat Celsius yang menusuk tulang, melainkan aroma.

Ada aroma arang yang terbakar dari warung sate di pinggir jalan, aroma manis gula merah dari penjual wedang, dan aroma tanah basah sisa hujan semalam.

Di sinilah letak magisnya. Liburan ke sini tanpa melakukan wisata kuliner yang serius adalah sebuah kesia-siaan. Lanskap kuliner di tahun 2026 ini menawarkan perpaduan yang sangat unik:

  1. Kembalinya Autentisitas: Wisatawan mulai lelah dengan makanan "viral sesaat" yang hanya menang tampilan. Lidah kembali mencari rasa jujur melalui bumbu yang ditumbuk tangan, santan yang diperas asli, dan daging yang dimasak perlahan.
  2. Modernisasi Tradisi: Tempat-tempat kumuh mulai berbenah. Pasar tradisional disulap menjadi clean market tanpa menghilangkan nyawa kulinernya.

Panduan ini tidak ditulis untuk mereka yang sekadar ingin kenyang. Tulisan ini didedikasikan bagi kamu yang ingin memahami "jiwa" dari setiap suapan yang masuk ke mulut. Kita akan membedah Wisata Batu Malang yang Wajib Dijelajahi dari sudut pandang rasa.

SOTO LOMBOK SEJAK 1955
Soto Lombok Sejak 1955

ZONA KULINER PASAR INDUK AMONG TANI

Mari kita mulai petualangan ini dari jantung baru Kota Batu: Pasar Induk Among Tani.

Lupakan stigma pasar tradisional lama yang becek, bau amis, dan sumpek. Sejak revitalisasi besar-besaran dan beroperasi penuh hingga 2026 ini, pasar ini telah bertransformasi menjadi landmark wisata yang sesungguhnya.

Bangunannya megah, sistem sirkulasi udaranya sangat baik, dan yang paling penting: Zona Kulinernya ada di Lantai 3.

Mengapa harus ke sini?

  • Aksesibilitas Sempurna: Lokasinya tepat di sebelah Terminal Batu. Bagi kamu yang menggunakan bus Trans Jatim atau transportasi umum lainnya, kamu hanya perlu berjalan kaki kurang dari 5 menit.
  • View Ribuan Dolar: Makan nasi seharga Rp12.000 tapi dengan pemandangan panoramic Gunung Panderman dan Arjuno? Hanya di sini tempatnya.

Mari kita bedah satu per satu "harta karun" yang ada di lantai 3 ini.

Sego Empok Bu Panen: Sebuah Ode untuk Nasi Jagung

Jika ada satu menu yang bisa mendefinisikan "rasa desa" di Batu, itu adalah Sego Empok. Dan di pasar ini, Warung Bu Panen adalah ratunya.

Apa itu Sego Empok? Ini adalah nasi yang dicampur dengan jagung tumbuk kasar. Di tahun 2026, di mana orang semakin sadar kesehatan (rendah gula), nasi jagung kembali naik daun.

Tapi kekuatan Bu Panen bukan hanya pada nasinya, melainkan pada Sayur Tewel (nangka muda).

  • Tekstur: Nasi jagungnya pera (tidak lembek), memberikan sensasi butiran kasar yang nikmat saat dikunyah.
  • Kuah: Sayur tewelnya dimasak dengan santan yang "medok" dan pedas. Nangka mudanya dimasak lama hingga sangat empuk, hampir lumer di mulut tanpa perlu dikunyah keras.
  • Topping Wajib: Jangan lupa minta tambahan Ikan Asin Bulu Ayam yang digoreng garing dan Mendol (olahan tempe busuk/semangit yang dibumbui kencur dan jeruk purut).

Bayangkan menyendok nasi jagung hangat yang sudah terserap kuah santan pedas, menggigit ikan asin yang renyah, lalu memandang kabut yang perlahan turun menutupi puncak gunung dari jendela pasar. Ini adalah pengalaman spiritual bagi perut yang lapar.

  • Catatan: Datanglah sebelum pukul 11.00 WIB. Setelah jam makan siang, biasanya lauk-pauk spesial seperti dadar jagung atau mendol hangat sudah ludes terjual.

Vendor Outbound Batu Malang

Bakso Monik: Fenomena Sate Tetelan

Bergeser sedikit ke keramaian lain, kamu akan menemukan antrean yang mengular di Kedai Bakso Monik.

Malang Raya adalah ibukota bakso, itu fakta. Tapi apa yang membuat Bakso Monik di Pasar Among Tani ini begitu spesial di tahun 2026?

Jawabannya ada dua kata: Sate Tetelan.

Berbeda dengan bakso malang pada umumnya yang mengandalkan varian bakso halus dan urat, Monik memainkan kartu as pada olahan tetelan (potongan daging sisa yang berlemak dan berurat) yang ditusuk seperti sate.

  • Sensasi Lemak: Sate tetelan ini tidak alot. Ia telah direbus berjam-jam hingga kolagennya pecah. Saat kamu celupkan ke dalam kuah bakso yang panas, lemaknya sedikit meleleh. Ketika digigit, ada ledakan rasa gurih (umami) alami dari lemak sapi yang berpadu dengan bumbu marinasi bawang putih.
  • Varian Gorengan: Jangan hanya pesan bakso basah. Ambil Goreng Kembang (pangsit goreng mekar) dan Siomay Gubis (kubis). Celupkan gorengan ini ke kuah hanya selama 5 detik sudah cukup agar sedikit lunak tapi tetap kriuk.

Tips: Pesanlah "Kuah Pisah" jika kamu tipe orang yang suka meracik sambal, kecap, dan saus secara ekstrem. Kuah aslinya sudah sangat gurih kaldu sumsum, sayang jika langsung "dirusak" dengan terlalu banyak saus. Cicipi dulu kuah original-nya.

Rawon Asmoro Joyo: Hitam yang Memikat

Bagi pecinta hidangan berkuah pekat, Warung Asmoro Joyo (Bu Rini) adalah destinasi wajib di lantai 3 ini. Rawon adalah masakan khas Jawa Timur, tapi rawon di sini memiliki karakter "Hitam Pekat dan Kental".

Banyak rawon di tempat lain yang kuahnya encer dan warnanya cokelat pucat. Di Asmoro Joyo, mereka tidak pelit Kluwek.

  • Aroma: Saat mangkuk disajikan, aroma kluwek yang nutty dan sedikit asam fermentasi langsung tercium, bercampur dengan aroma daun jeruk purut.
  • Daging: Potongan dagingnya besar-besar (umumnya bagian sandung lamur/brisket) yang memiliki lapisan lemak tipis. Empuknya luar biasa.
  • Pasangan Sejati: Rawon ini wajib dimakan dengan Tauge Pendek (kecambah) mentah. Jangan minta tauge matang! Tekstur crunchy dan rasa segar dari tauge mentah berfungsi menyeimbangkan kuah rawon yang "berat" dan berlemak. Tambahkan telur asin masir (yang kuningnya berminyak) untuk kesempurnaan rasa.
Rawon Asmoro Joyo
Rawon Hitam Memikat

ATMOSFER DAN PANDUAN WISATAWAN DI PASAR

Menikmati kuliner di Pasar Induk Among Tani bukan hanya soal makanan, tapi soal vibes.

Pemandangan yang "Mahal"

Desain pasar ini sangat modern dengan jendela-jendela besar dan area semi-terbuka. Dari meja makan kamu, lanskap Kota Batu terlihat jelas.

  • Di satu sisi, kamu bisa melihat Gunung Panderman yang ikonik (sering disebut "Putri Tidur").
  • Di sisi lain, terlihat hiruk pikuk kota dan lalu lalang bus di terminal.
  • Visualisasi ini menambah nilai "wisata" yang kuat. kamu tidak merasa sedang makan di pasar, melainkan di food court eksklusif namun dengan harga kaki lima.

Fasilitas Penunjang (Penting untuk Keluarga)

Bagi kamu yang membawa anak kecil atau lansia:

  • Kebersihan: Lantai keramiknya bersih, petugas kebersihan berkeliling setiap saat.
  • Toilet: Tersedia toilet yang layak dan terawat di setiap lantai (tidak seperti pasar lama).
  • Sirkulasi Udara: Tidak pengap. Angin pegunungan bebas masuk, membuat suasana makan tetap sejuk meski tanpa AC.

Tips Logistik untuk Pengunjung

  1. Parkir: Area parkir sangat luas di lantai dasar dan basement. Mobil dan motor tertata rapi. Tidak ada lagi drama parkir liar di pinggir jalan yang bikin macet.
  2. Waktu Berkunjung: Hindari jam 12.00 - 13.00 tepat jika kamu tidak suka keramaian atau waiting list kursi. Pukul 10.00 pagi adalah sweet spot, makanan baru matang, masih fresh, dan tempat duduk masih lega.
  3. Metode Bayar: Meskipun ini pasar modern, uang tunai (cash) pecahan kecil (Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000) masih menjadi raja. Beberapa tenant besar mungkin sudah punya QRIS, tapi jangan ambil risiko. Siapkan cash agar transaksi cepat.

 


SANG IKON KOTA BATU (SATE KELINCI & SUSU MURNI)

Jika Paris punya Croissant dan Jogja punya Gudeg, maka Batu punya Sate Kelinci. Ini adalah kuliner yang sering disalahpahami, namun selalu dicari. Bagi wisatawan yang baru pertama kali ke Batu di tahun 2026 ini, membuang stigma dan memberanikan diri mencicipi sate kelinci adalah sebuah rite of passage, sebuah ritual peralihan menjadi pelancong sejati.

Fakta Unik: Mengapa Kelinci?

Banyak yang bertanya, "Kenapa harus kelinci? Bukankah mereka hewan peliharaan yang lucu?" Perlu dipahami bahwa kelinci yang diolah di Batu adalah jenis kelinci pedaging (seperti jenis New Zealand White atau Flemish Giant), yang memang dibudidayakan untuk konsumsi, sama seperti ayam atau sapi.

Secara nutrisi dan tekstur, daging kelinci di tahun 2026 ini justru menjadi primadona bagi mereka yang sadar kesehatan (health conscious):

  • Tekstur: Serat dagingnya sangat halus, jauh lebih lembut daripada ayam kampung, namun tidak se-alot daging kambing.
  • Rendah Kolesterol: Daging ini dikenal memiliki kadar lemak dan kolesterol yang jauh lebih rendah dibanding daging merah lainnya.
  • Rasa: Dagingnya sendiri cenderung netral (tidak amis/prengus), sehingga sangat mudah menyerap bumbu marinasi.
Sate Kelinci Batu
Sate Kelinci Batu

Rekomendasi 1: Warung Sate Kelinci P. Atim

Di antara sekian banyak penjual, Warung Sate Kelinci P. Atim adalah sebuah institusi. Tersembunyi namun selalu ramai, warung ini memegang teguh pakem pengolahan tradisional.

Kunci kelezatan di sini ada pada Bumbu Kacang.

  • Kacangnya disangrai (bukan digoreng minyak jelantah), lalu digiling sangat halus hingga mengeluarkan minyak alaminya sendiri.
  • Saat disajikan, bumbu ini memiliki konsistensi creamy yang kental.
  • Rasa manis dari kecap lokal beradu dengan gurihnya kacang dan sedikit hint pedas dari cabai rawit.
  • Satenya dibakar dengan arang batok kelapa, memberikan aroma smoky yang sopan, tidak gosong pahit. Dagingnya empuk, juicy, dan potongannya pas di mulut (bite-sized).

Rekomendasi 2: Rabbit Satay Restaurant (Untuk Keluarga Besar)

Jika kamu datang dengan rombongan besar atau bus pariwisata setelah lelah dari Jatim Park 3, tempat ini lebih cocok.

  • Kelebihan: Tempatnya luas, parkiran memadai, dan pernah memegang rekor MURI.
  • Variasi Menu: Di sini, kelinci tidak hanya disate. kamu bisa mencoba Gulai Kelinci atau Rica-Rica Kelinci. Olahan rica-ricanya sangat direkomendasikan bagi pecinta pedas; bumbunya yang "medok" dengan kunyit, jahe, dan serai sukses menutupi keraguan bagi mereka yang baru pertama kali mencoba.

Ritual Songgoriti: Susu Panas & Jagung Bakar

Saat malam tiba dan suhu di Batu bisa drop hingga 15-16 derajat Celcius, tubuh secara alami menuntut kehangatan.

Jangan langsung kembali ke hotel! Arahkan kendaraan kamu ke kawasan Songgoriti atau sekitaran Payung.

Ini adalah pengalaman sensorik paling sederhana namun paling "mewah" di Batu. Duduklah di warung lesehan pinggir tebing (hati-hati dan pilih warung yang aman), lalu pesanlah menu wajib: Susu Sapi Murni Panas.

  • Kenapa Spesial? Batu dan Pujon adalah sentra penghasil susu sapi terbaik di Jawa Timur. Susu di sini benar-benar fresh, baru diperah pagi atau sore hari, lalu direbus (pasteurisasi) di warung.
  • Varian Rasa: Pesanlah Susu Jahe. Perpaduan creamy-nya susu murni (yang masih ada layer lemak susunya di permukaan) dengan pedasnya jahe geprek asli adalah "selimut" terbaik untuk organ dalam tubuh kamu.
  • Teman Minum: Wajib pesan Jagung Bakar. Pilih jagung manis yang diserut, lalu dibakar dengan olesan mentega dan sambal pedas manis. Sensasi menggigit bulir jagung panas yang meletup di mulut, disusul seruputan susu jahe, sambil melihat lampu kota dari ketinggian... Te O Pe BGT!
Susu Sapi Murni dan Jagung bakar
Susu Sapi Murni dan Jagung Bakar

LEGENDA RASA DI MALANG (WAJIB MAMPIR)

Jika kamu punya waktu lebih atau berencana menginap di pusat kota Malang, perjalanan rasa ini harus berlanjut ke selatan. Di Malang Kota, kita berbicara tentang sejarah.

Tempat-tempat ini bukan sekadar warung, mereka adalah saksi bisu sejarah kota sejak zaman kolonial hingga tahun 2026.

Soto Ayam Lombok (Sejak 1955): Rahasia Sang Koya

Jangan pernah mengaku pecinta soto jika belum ke sini. Terletak di jalanan yang kini makin padat, Soto Ayam Lombok adalah definisi konsistensi.

Bedah Komponen:

  • Bukan Soto Biasa: Warnanya kuning keruh, bukan bening.
  • The Magic of Koya: Di meja, toples berisi bubuk Koya (kerupuk udang & bawang putih yang dihaluskan) tersedia bebas. Inilah kuncinya. Pengunjung "wajib" menaburkan koya ini sampai kuahnya mengental seperti bubur encer.
  • Rasa: Saat koya bercampur kuah, terjadi reaksi rasa yang magis. Gurihnya meledak! Potongan ayam kampungnya suwir besar-besar, ditambah irisan kentang rebus dan telur.
  • Tips Makan: Jangan diaduk terlalu rata. Biarkan ada bagian yang kental koya dan bagian yang masih cair untuk variasi tekstur di setiap suapan.

Warung Sate Gebug (1920): Seni Memukul Daging

Berdiri di sebuah bangunan gardu listrik tua peninggalan Belanda, Warung Sate Gebug menawarkan atmosfer vintage yang asli, bukan buatan.

Proses Unik (The "Gebug"): Nama "Gebug" berasal dari proses pengolahannya. Daging sapi has dalam (tenderloin) dipukul-pukul (digebug) dengan alat khusus hingga seratnya hancur dan melebar.

  • Hasilnya: Daging menjadi sangat lunak. kamu tidak perlu tenaga ekstra untuk mengunyahnya.
  • Bumbu: Sate ini dibakar dengan bumbu kecap manis dan rempah minimalis. Rasanya manis gurih, meresap hingga ke dalam serat yang sudah pecah tadi.
  • Menu Pendamping: Sate ini paling cocok dimakan dengan Sop Sayur atau Rawon yang juga mereka jual. Kuah sop yang bening menetralisir rasa manis sate yang pekat.

Hot Cui Mie: Inovasi yang Menjadi Tradisi

Malang terkenal dengan Cwie Mie (mie ayam dengan taburan ayam cincang halus yang warnanya putih, bukan cokelat kecap seperti mie ayam Jakarta).

Namun, Hot Cui Mie membawa ini ke level berbeda. Mereka adalah pelopor penyajian mie di dalam Mangkuk Pangsit Goreng.

  • Ya, mangkuknya bisa dimakan!
  • Sensasi Sensorik: Ada kesenangan tersendiri saat mematahkan pinggiran mangkuk pangsit yang renyah (kriuk!), lalu mencocolnya ke saus sambal racikan khas Malang (yang cair dan asam pedas).
  • Tekstur Mie: Mienya kecil, keriting, dan kenyal. Topping ayamnya gurih asin, dilengkapi dengan selada segar dan acar timun. Ini adalah menu makan siang yang sempurna setelah panas-panasan keliling kota.

 


OLEH-OLEH & PENGHANGAT TUBUH

Petualangan kuliner tidak berhenti saat kamu makan di tempat. kamu harus membawa "rasa" itu pulang.

Wedang Uwuh ala Batu

Meskipun aslinya dari Imogiri (Jogja), Wedang Uwuh telah diadopsi dengan sempurna oleh kultur Batu yang dingin.

  • Isi: Di toko oleh-oleh, carilah bungkusan plastik berisi "sampah" (uwuh) rempah: daun cengkeh kering, kayu secang (yang bikin warna merah), jahe emprit kering, dan gula batu.
  • Khasiat: Ini bukan sekadar minuman, ini jamu enak. Efektif untuk masuk angin, pegal-pegal, dan menghangatkan badan. Seduhlah saat kamu kembali ke rumah dan merindukan dinginnya Batu.

Apel & Olahannya

Tahun 2026, varian olahan apel makin kreatif. Selain Keripik Apel yang klasik, carilah:

  • Strudel Apel: Pastry berlapis dengan isian selai apel asli yang asam manis.
  • Cuka Apel Batu: Kualitas fermentasi cuka apel lokal kini sudah setara produk impor, bagus untuk kesehatan pencernaan.

Vendor Outbound Batu Malang

PANDUAN PRAKTIS & STRATEGI "BATTLE" KULINER

Makan enak itu butuh strategi. Apalagi di Batu dan Malang saat musim liburan atau akhir pekan di tahun 2026.

Jangan sampai niat hati ingin makan Sate Gebug, eh malah kehabisan karena datang kesiangan. Berikut adalah panduan taktis lapangan hasil riset mendalam:

Timing Adalah Kunci (The Golden Hours)

  • Untuk Pasar Induk Among Tani: Datanglah sebelum pukul 11.00 WIB. Mengapa? Karena menu Sego Empok Bu Panen biasanya sudah habis lauk favoritnya (seperti dadar jagung hangat atau mendol) lewat jam makan siang. Selain itu, pemandangan Gunung Panderman biasanya masih cerah dan belum tertutup kabut tebal.
  • Untuk Kuliner Legendaris (Soto Lombok/Sate Gebug): Hindari jam makan siang tepat (12.00 - 13.00). Datanglah di jam "tanggung" seperti pukul 10.30 atau 15.00. kamu akan mendapatkan pelayanan lebih cepat dan tempat duduk yang nyaman tanpa ditungguin orang lain yang berdiri di samping meja kamu.
  • Untuk Songgoriti/Payung: Waktu terbaik adalah menjelang maghrib (17.30 - 19.00). kamu bisa melihat transisi langit senja ke malam hari (city lights), sambil menyeruput susu hangat.

Etika & Cara Pembayaran (Cash is King)

Meskipun 2026 adalah era digital, kearifan lokal tetap berlaku.

  • Siapkan Uang Tunai (Receh): Parkir di area kuliner legendaris (yang rata-rata di pinggir jalan) masih dikelola oleh juru parkir konvensional. Siapkan pecahan Rp2.000 atau Rp5.000.
  • QRIS: Resto besar seperti Rabbit Satay atau Hot Cui Mie sudah pasti bisa QRIS/Debit. Namun, untuk lapak kecil di Pasar Among Tani atau pedagang jagung bakar pinggir jalan, uang tunai mempercepat transaksi. Seringkali sinyal di area pegunungan (seperti Payung/Songgoriti) agak lemot untuk loading aplikasi bank.

Dresscode: Layering System

Jangan salah kostum. kamu mungkin merasa gerah saat makan Soto panas di siang hari, tapi begitu keluar resto dan angin berhembus, dinginnya menusuk.

  • Gunakan teknik Layering: Pakai kaos nyaman yang menyerap keringat, lalu lapisi dengan jaket atau kardigan yang mudah dilepas-pasang. Ini penting agar kamu tidak masuk angin setelah berkeringat makan sambal.
Wedang Uwuh Ala Batu
Wedang Uwuh Ala Batu

RISIKO, HIMBAUAN & CATATAN PENTING

Demi pengalaman liburan yang paripurna dan "Dompet Aman, Perut Nyaman", perhatikan "ranjau-ranjau" kecil berikut ini:

Peringatan Level Pedas (Dangerously Hot!)

Orang Jawa Timur, khususnya Malang, punya toleransi pedas di atas rata-rata nasional.

  • Sambal Bawang: Hati-hati dengan sambal di warung lalapan atau bakso. Biasanya itu adalah sambal bawang murni (cabai rawit + bawang putih + minyak panas) tanpa tomat. Pedasnya menusuk lambung.
  • Tips: Selalu pesan sambal dipisah (separate). Jangan gegabah menuangkan 3 sendok sekaligus ke kuah bakso kamu sebelum mencicipi setetes dulu.

Parkir & Kemacetan (The Narrow Streets)

Banyak kuliner legendaris (seperti Sate Gebug atau Sate Kelinci P. Atim) berada di jalan lama yang sempit atau satu arah.

  • Himbauan: Jika kamu membawa mobil besar (SUV/MPV bongsor), bersiaplah untuk parkir agak jauh dan berjalan kaki sedikit. Jangan memaksakan parkir tepat di depan warung jika bahu jalan sempit, karena bisa bikin macet total dan diteriaki warga lokal.

Kesehatan Pencernaan

Perpaduan udara dingin, santan (rawon/soto), dan pedas serta kopi/susu bisa memicu reaksi lambung bagi yang tidak terbiasa.

  • Saran Medis Ringan: Selalu bawa obat maag atau antasida di tas kamu. Minumlah air mineral hangat (bukan es) setelah makan makanan berminyak untuk membantu meluruhkan lemak di tenggorokan.

Menurut laporan Dinas Kesehatan Kota Batu (2025), Wisatawan dihimbau untuk tetap menjaga hidrasi tubuh meski udara dingin tidak membuat haus, guna melancarkan metabolisme setelah mengonsumsi kuliner bersantan dan pedas yang mendominasi wisata kuliner lokal.

FAQ

1. Min, Sate Kelinci itu Halal gak sih?
100% Halal. Kelinci bukanlah hewan bertaring (bukan predator) dan bukan hewan yang hidup di dua alam. Mayoritas ulama sepakat daging kelinci halal dikonsumsi. Di Batu, para pedagang legendaris juga sangat memperhatikan proses penyembelihan secara syar'i. Jadi, makanlah dengan tenang.
2. Bawa anak kecil (toddler), aman gak makan di Pasar Among Tani?
Aman banget. Lantai 3 itu bersih, keramiknya kinclong, dan ada area yang cukup luas untuk anak bergerak (tapi tetap awasi). Menunya pun banyak yang kid-friendly seperti Sop-sopan, Sayur Bening, atau Telur Dadar tanpa cabai. Kursinya juga layak, bukan kursi jongkok yang bikin pegal.
3 Berapa budget yang harus disiapkan untuk wisata kuliner seharian?
• Sarapan (Nasi Empok/Soto): Rp15.000 - Rp20.000 • Makan Siang (Bakso/Mie): Rp20.000 - Rp35.000 • Makan Malam (Sate/Resto): Rp40.000 - Rp70.000 • Jajan (Susu/Camilan): Rp15.000 • Total: Sekitar Rp100.000 - Rp150.000 per orang sudah sangat kenyang dan bahagia seharian.
4. Lebih enak mana, Sate Kelinci atau Sate Ayam?
Ini soal selera. Tapi kalau bicara tekstur, sate kelinci lebih lembut dan lebih padat (tidak lembek berlemak seperti kulit ayam). Bumbunya pun biasanya bumbu kacang halus, berbeda dengan sate ayam Madura yang kacangnya kasar. Wajib coba setidaknya sekali seumur hidup!

 

JANGAN PULANG SEBELUM KENYANG!

Batu dan Malang di tahun 2026 telah membuktikan diri sebagai destinasi yang dewasa. Mereka tidak lagi sekadar menjual tiket masuk wahana buatan, tetapi menjual memori rasa.

Dari kesederhanaan Sego Empok di pasar modern yang menghadap gunung, kelembutan Sate Kelinci yang melegenda, hingga kehangatan Susu Murni di dinginnya malam Songgoriti, semuanya adalah potongan puzzle yang membentuk pengalaman liburan tak terlupakan.

Jadi, siapkan perut kosong, ajak orang tersayang, dan biarkan lidah kamu bertualang. Jangan lupa cek juga rekomendasi penginapan di Hotel Dekat Tempat Wisata Batu Praktis agar setelah kenyang, kamu bisa langsung rebahan dengan nyaman.

Sampai jumpa di Batu! Hati-hati di jalan ya para traveller!

⚠️ Informasi di halaman ini ditulis berdasarkan pengalaman dan pengamatan saat berkunjung, sehingga kondisi, harga, dan jam operasional bisa berubah di lapangan. Panduan ini bersifat referensi liburan dan bukan promosi resmi dari pengelola destinasi.

📖 Lihat Sumber Informasi dan Gambar
Referensi Tulisan:
01. jogja.disway.id
02. kelumajang.com
03. liputan6.com
04. seru.co.id
Referensi Gambar: Ilustrasi dibuat menggunakan teknologi AI.

✍️ Publish by  Yolanda Deva Apriliana Putri (yda)

Postingan Terkait

Provider Outbound Batu Malang

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *